Pembatalan rencana kunjungan kenegaraan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Belanda menuai pro dan kontra, hal ini dilakukan karena adanya penuntutan penangkapan SBY yang dilakukan oleh Republik Maluku Selatan (RMS) yang diajukan pada pengadilan Belanda.
Seperti yang diberitakan oleh bbcindonesia.com, Pengumuman pembatalan ini dilakukan di Bandara Halim Perdanakusumah hanya beberapa saat sebelum pesawat kenegaraan yang sedianya akan membawa rombongan presiden lepas landas. "Ada semacam pergerakan di Den Hag yang di dalamnya ada yang mengajukan tuntutan ke pengadilan Den Hag untuk mempersoalkan masalah HAM di Indonesia dan bahkan meminta kepada pengadilan untuik menangkap Presiden Indonesia pada saat berkunjung ke Belanda," ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada para wartawan.
"Yang menuntut ada warga negara Belanda tapi ada juga organisasi, termasuk yang menamakan dirinya RMS." SBY menambahkan bahwa unjuk rasa terhadap kepala negara yang berkunjung sudah biasa, begitu juga dengan ancaman keamanan. "Tidak boleh surut kalau ada ancaman atau persoalan seperti itu."
"Tapi yang tidak bisa saya terima adalah ketika Presiden Republik Indonesia berkunjung ke Den Hag dan Belanda atas undangan Ratu Belanda dan juga Perdana Menteri Belanda... digelar sebuah pengadilan yang antara lain untuk memutus tuntutan penangkapan Presiden Republik Indonesia."
Namun begitu, pemerintah Belanda berharap pengadilan Den Haag segera memutus gugatan Republik Maluku Selatan yang menuntut agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ditangkap dalam kunjungannya di Belanda.
Atas keputusan yang diambil secara mendadak ini, timbulah sikap pro dan kontra. SBY menilai, keputusan yang diambilnya ini merupakan wujud dari sikap kedaulatan NKRI yang tidak bisa diganggu gugat dan menyinggung masalah harga diri bangsa. Namun, keputusan SBY itu dinilai sebagai sikap “takut” SBY terhadap RMS. Bahkan tidak sedikit lawan politiknya menggunakan peristiwa tersebut sebagai peluru untuk mengkritik pemerintahan SBY.
Berbagai sikap dan kecaman yang ditujukan kepada SBY tersebut, membuat partai Demokrat tidak tinggal diam. Seperti yang dilansir oleh detik.com. Partai Demokrat menilai langkah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menunda kunjungan ke Belanda merupakan keputusan rasional. Pasalnya partai berlambang bintang mercy itu memandang memang ada politisasi di Pengadilan Den Haag.
"Keputusan Presiden memang tidak berlebihan, itu sudah pas dan terukur. Sulit bagi saya untuk tidak mencurigai nuansa politisasi ketika pengadilan dilakukan justru di saat Presiden RI di sana," tandas Wakil Ketua Fraksi Demokrat, Ramadhan Pohan, dalam pernyataan tertulisnya Rabu (6/10/2010).
Menurut Ramadhan, keputusan Presiden menunda lawatan Belanda bukan hal yang sepatutnya terlalu dibesar-besarkan. Pasalnya, RI-1 juga akan mengunjungi negeri kincir angin tersebut jika keadaan internal di sana sudah kondusif.
"Kita tak rela jika di Belanda, RI diolok-olok dengan pengadilan terhadap Presiden RI. Tak bisa kita biarkan Presiden RI dipermalukan demi agenda politik RMS yg notabene warga negara Belanda," tandas Ramadhan yang juga merupakan Wasekjen DPP Partai Demokrat ini.
Namun, beberapa pengamat politik menilai bahwa keputusan yang diambil oleh SBY tersebut salah membaca persoalan dan terlalu tergesa-gesa.
"Saya melihat SBY salah membaca sinyal dari permasalahan ini. Dia malah menangkap situasi ini dari sisi lain," kata pengamat politik internasional Center for Strategic and international Studies (CSIS), Bantarto Bandoro.
Bantarto menilai, pertemuan antara Indonesia merupakan sesuatu hal yang positif bagi kedua negara. Jika pun ada ancaman dari RMS, lanjutnya, hal itu tentu tidak akan berimbas kepada SBY. Sebab, pihak Belanda dipastikan akan menjamin hak imunitas dari orang nomor satu di Indonesia itu.
"Penundaan ini akan mencoreng citra Indonesia. Seakan-akan kita meragukan kapasitas Belanda yang telah mengeluarkan pernyataan untuk menjamin keselamatan SBY," lanjut Bantarto.
Pembatalan kunjungan SBY ke Belanda disesalkan. Justru hal itu akan memberi angin kepada kelompok RMS. Kampanye mereka pun akan dianggap sukses dan menjadi sorotan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar