Pada masa modernisasi negara-negara berkembang di seluruh dunia berlomba- lomba dalam memajukan negaranya dalam segala bidang. Ekonomi, politik bisnis, serta pertaniannya. Aspek-apek itu yang mendorong pemerintah Negara-negara berkembang membuat inovasi-inovasi yang baru serta kerjasama dengan Negara-negara maju. Inovasi-inovasi Negara-negara berkembang yang di lakukakan oleh Negara tersebut tak jauh berkat penerapan komunikasi pembangunan yang di lakukan oleh para pakar-pakar ilmu pengetahuan. Penerapan komunikasi pembangunan ini di lakukan dalam aspek segala bidang seperti bidang pertanian, bidang keluarga berencana, komunikasi penunjang pembangunan, dukungan komunikasi pada proyek bank dunia, pendidikan, bidang kesehatan, prospek komunikasi pembangunan.
Dalam bidang pertanian Negara berkembang melakukan inovasi dengan menerapkan teknologi serta membuat riset-riset demi kemaslahatan masyarakat. Di Indonesia sendiri penerapan komunikasi pembangunan dilakukan dengan cara swasembada pangan yang di terapkan pada tahun 1984 yang mempunyai tujuan memajukan pertanian di luar pulau jawa. Sasarannya pun di bidang penelitian pangan, pola konsumsi, serta sisitem pemasarannya. Penerapan lain dalam komunikasi pembangunan pada masa orde lama dilakukan dengan istilah program kesejahteraan nasional pada 1952. Pada masa orde baru program pembangunan pada aspek pertanian dilakukan dengan panca usaha tani.
Program-program pemerintah yang telah dilakukan pada masa orde-orde tesebut, sangat jauh penerapannya pada masa sekarang ini contoh halnya saja peran pemerintah dalam pertanian. pemerintah masih cenderung memihak kaum elite ini terbukti dengan pemerintah mengeluarkan kebijalkan-kebijakan yang banyak merugikan para kaum petani. Contoh real dari kebijakan yang kurang mempertimbangkan kaum petani adalah dengan pemberitaan di media (jawa pos,11/10/2010) dengan mengeluarkan kebijakan impor beras 300 ribu ton dari Vietnam dan Thailand. pemerintah berdalih semua itu dilakukan untuk menutupi stok beras bulog. Padahal stok beras di dalam negeri sendiri menurut petani lebih dari cukup bahkan melimpah.
Jika di sambungkan dengan komunikasi pembangunan sangatlah tidak sesuai karena seharusnya pemerintah tidak melibatkan masyarakat, khususnya petani dalam proyek pengembangan pertanian. Tapi berkat media komunikasi Koran, televise, ataupun media online semua informasi itu dapat tersalurkan pada masyarakat Indonesia. Pada masa orde baru media sebagai tonggak utama dalam informasi pertanian. contoh konkrit dari semua itu adalah dengan adanya stasiun TVRI yang menyiarkan perkembangan pertanian dalam acaranya yaitu kelompen capir, suatu acara yang mengulas seluk beluk dalam perkembangan pertanian dalam segala bidang di Indonesia. Walaupun pada masa itu semuanya tidak transparan seperti saat ini.
Bidang lain dalam perkembangan komunikasi sosial dan pembangunan adalah dengan keluarga berencana (KB). Bagi Negara berkembang masalah kependudukan adalah salah satu yang wajib bagi pemerintah untuk merealisasikan dalam komunikasi pembangunan. karena kontrol perkembangan penduduk di Indonesia merupakan hal yang tatkala jika di abaikan akan menghambat dalam perkembangan pembangunan di Indonesia. Kegiatan yang perlu di perhatikan dalam komunikasi KB adalah perlunya mengatur jumlah anak dan merencanakannya, merubah persepsi yang ada pada masyarakat bahwa banyak anak banyak rejeki, sosialisasi pendidikan dalam penggunaan alat kontrasepsi, mensosialisasikan serta mengubah perilaku yang berkenaan dengan pernikahan dini.
Dalam aspek ini di butuhkan kerjasama yang solid antara masyarakat Indonesia dengan pemerintah, dengan cara penyuluhan dan realisasi serta pendidikan yang layak. Realitas yang ada sekarang di nilai cukup bagus dalam penerapan komunikasi sosial pembangun khususnya bidang keluarga berencana. Ini terbukti dengan sering genjarnya pemerintah menyuguhkan sosialisasi serta wawasan tentang pentingnya penggunaan alat kontrasepsi ataupun pengguaan alat-alat KB. Disamping itu pemerintah bekerjasama dengan media pertelevisian bekerjasama dalam mensoslisasiakan pentingnya nikah dengan proses perencanaan yang matang. Dalam hal ini peran media sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah sangatlah penting.
Walaupun sosialisasi sudah dilakukan pemerintah dengan maksimal, masih ada segelintir masyarakat yang masih melakukan pernikahan dini. Kebanyakan pelakunya adalah masyarakat yang berada di daerah pelosok yang kurang terjamah oleh teknologi. Bukan hanya terkendala masalah teknologi saja persoalan adat juga menjadi kendala dalam hal proses KB tersebut. Seperti di daerah Madura yang di pelosok-pelosok pernikahan dibawah umur masih banyak dilakukan, meraka menjdodohkan anaknya yang tergolong masih harus mengenyam pendidikan yang tinggi. semua itu dilakukan dengan dalih agama. Disini pemerintah harus lebih gencar dalam sosialisasi serta memberi wawasan akan pentingnya pernikahan dengan proses perencanaan. Dengan masuk ke pelosok-pelosok daerah tersebut.
Pendidikan merupakan hal yang paling penting bagi kemajuan suatu bangsa. Terutama bagi Negara berkembang seperti di Indonesia. Tapi kenyataan yang ada sekarang pendidikan di Indonesia sangat lah jauh dari harapan masyarakat Indonesia sendiri. Kesenjangan strata sosial menjadi hal yang mencolok di Indonesia bahkan suatu hal yang paling terlihat. Contoh nyata dari semua itu adalah sekolah jalanan yang berada di bawah kolong jembatan di Jakarta, para anak yang didik secara kurang layak di tempat yang tidak nyaman bahkan campur tangan pemerintah tidak ada sama sekali. Pemerintah seolah menutup mata atas semua kesenjangan pendidikan, bahkan sekolah yang didirikan di bawah kolong jembatan tersebut di himpun dari kantong-kantong para wali murid yang notabennya keluarga yang tidak mampu. Buku serta peralatan sekolah yang ada, mereka dapatkan dari sumbangan para dermawan-dermawan yang peduli dengan mereka.
Disini pemerinah di tuntut berperan aktif serta bergerak untuk bagaimana pendidikan bisa merata di seluruh wilayah Indonesia. Media sebagai penyalur pemerintah dengan masyarakat dalam kenajuan pendidikan di Indonesia. Kesenjangan akan teknologi informasi juga menjadi sebab lambatnya pendidikan mereka yang tidak mempunyai kesempatan serta kemapauan dalam mengakses teknolog informasi, biasanya meraka dari kalangan orang miskin, di desa yang sangat pelosok, yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan serta perempuan, kesenjangan itu disebut dengan “digital divide”.
Dari sudut pandang pembangunan, kemajuan dan ketersediaan teknologi baru di bidang informasi dan komunikasi (new information and communication technology atau new ICT) bisa dilihat dari dua sisi. Sisi yang pertama, bagaimana akibat tersebut bagi upaya peningkatan taraf kehidupan sebagian masyarakat terutama masyarakat Negara berkembang di bandingkan dengan Negara yang sudah maju. Sisi yang kedua bagaimana teknologi informasi komunikasi bisa di eksploitasi oleh Negara-negara berkembang terutama di Indonesia untuk dapat mengakses ke pasar dunia dan memaksimalkan kelebihan kompetitif (competitive advantages) mereka. Khususnya masyarakat desa bisa dapat menyalurkan produknya serta membuka lapangan kerja secara lebih efektif serta efisien.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesenjangan sosial adalah sulitnya jalan ke akses telekomunikasi, akses ke internet, pencapaian pendidkan, bahasa (hampir 90% isi internet dalam bahasa inggris), akses di kawasan kota lebih baik dari pada di desa. Langkah mengatasi akan hal itu adalah dengan peran pemerintah dan masyarakat untuk pengembangan infastruktur jaringan dalam bidang online, penyebarserapan ke individu dan rumah tangga, pendidikan serta pelatihan, penyebarserapan ke kalangan bisnis, proyek pemerintah. Di Indonesia semua itu sedikit demi sedikt sudah terealisasi walaupun tidak secara keseluruhan. Pengenalan internet pada masyarakat desa di nilai sangatlah baik karena disamping mengenalkan dan mengekploitasi kebudayaan yang di desa juga utnuk meningkatkan taraf hidup masyarakat agar mereka tidak berbondong-bondong ke kota. Juga untuk memperkenalkan panorama wisata desa agar di kenal di Indonesia dan dunia.
Keberhasilan ataupun kegagalan dalam membangun program-program infrastruktur dari aspek sosial tersebut juga di tentukan oleh masyarakat. Apabila masyarakat menolak ide dan produk pembangunan berarti program pembangunan tersebut gagal, sebaliknya jika mereka menerima maka program pembangunan itu dinilai berhasil. Ada kaitan untuk saling membantu serta berpartisispasi dalam proses perwujudan program pembangunan dan pasca proses produksi. Dengan demikian, penemuan, ide, dan program pembangunan sebaik apapun tidak akan mengubah sikap dan perilaku masyarakat sebagaimana diharapkan oleh pemerintah.
Ide serta serta program pembangunan harus senantiasa di pandang sebagai pembaruan (inovasi). Oleh karena itu untuk mengubah masyarakat dalam berpartisispasi dalam program inovasi yang yang pertama adalah merubah sikap mental, pengetahuan, perilaku masyarakat kearah yang dikehendaki oleh otoritas pemerintah. Langkah –langkah itu disebut dengan difusi inovasi (penyebaran ide-ide baru). Program difusi inovasi harus mempunyai perencanaan dalam membangun suatu daerah tersebut. Proses perencanaan merupakan suatu keharusan dari suatu proses pembangunan tersebut. Komunikasi planning yang pertama yang harus diabuat adalah perencanaa yang bersifat strategis, yang nantinya akan menjadi panduan dalam kegiatan komunikasi pembangunan.
Penyusunan perencanaan diperlukan karena untuk proses pengkajian dan bagaimana suatu difusi inovasi dapat berjalan dengan baik serta kajian ilmiah tentang kondisi-kondisi ideal dan kondisi-kondisi objektif yang berkaitan dengan sumberdaya komunikasi yang relevan dengan kepentingan dan tujuan proses komunikasi (sosialisasi) yang akan dilakukan. Sumber daya komunikasi yang harus dikaji adalah yang menyangkut proses-proses komunikasi, mulai dari khalayak masyarakat, saluran komunikasi yang digunakan, pesan-pesan yang disampaikan, sampai dengan sumber atau penyampai pesan.
Daftar Pustaka
Nasution,Zulkarimen. 2004. Komunikasi Pembangunan Pengenalan Teori Dan Penerapannya. RajaGrafindo Persada. Jakarta
Subandi. 2007. Sistem Ekonomi Indonesia. Alfabeta. Bandung
Internet
Sugiana,Dadang. Perencanaan Komunikasi Dalam Mensosialisasikan Program Pembangunan. http://dankfsugiana.wordpress.com/2008/11/21 diakses pada 12. Oktober 2010 pukul 23.55 WIB
Amri,Mulya. Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Pembangunan. http://kombinasi.net/ diakses 12 Oktober 2010 pukul 12.00 WIB.
Media Cetak
Jawa Pos edisi 11 Oktober 2010.(Impor Beras Dinilai Tergesa-gesa).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar