Jumat, 15 Mei 2009

GEROBAKKU, SUMBER KEHIDUPANKU

Pedagang kaki lima banyak kita jumpai di sepanjang jalan di kota-kota besar. Seperti halnya di kota Malang. banyak sekali yang mejajahkan dagangannya tanpa menghiraukan aturan-aturan yang di buat oleh pemerintah daerah.

Sering kali mereka melanggar atau mengindahkan aturan-aturan tersebut, seperti halnya berjualan di sepanjang terotoar dan di depan pusat-pusat perbelanjaan. Bahkan dagangan mereka pun sering kali memakan bahu jalan sehingga mengganggu para  pengguna jalan.

Meski mereka rela harus saling kucing-kucingan dengan pihak SATPOL PP ( satuan polisi pamong praja ) yang sering menertibakan. walaupun sering di razia mereka tetap saja berjualan di sepanjang jalan tersebut, tetapi sering kali mereka kembali berjualan ketika pihak satpol pp pergi meninggalkan lokasi razia, sebagian besar para pedagang mempunyai alasan yang sangat beragam, salah satu alasan yang paling dominan adalah tidak lain untuk memenuhi kebutuhan hidup.

 Berangkat dari sebuah desa plandi kecamatan gunung kawi dan dengan bermodalkan sebuah tekat yang besar untuk merubah nasib, Darmaji mengawali pekerjaannya menjadi sebuah buruh di sebuah restoran di jalan Ahmad Yani yang sekarang menjadi salah satu pusat perbelanjaan dikota malang.

Menurut penuturannya banyak suka duka yang di alami selama bekerja di restoran tersebut mulai dari gaji yang sedikit sampai dengan keluhan pelanggan yang meminta untuk di buatkan masakan yang sesuai dengan seleranya.

Seiring berjalannya waktu dan semakin bertambahnya kebutuhan,  memaksa Darmaji pria berusia 39 tahun ini untuk keluar dari pekerjaannya dan beralih menjadi pedagang nasi goreng keliling.

 Berkat bekal yang di perolehnya dari pengalaman di restoran darmaji memberanikan diri untuk berjualan nasi goreng di luar pulau Jawa tepatnya di pulau kalimantan, itupun tidak bertahan lama sehingga memaksa darmaji untuk kembali ke pulau jawa.

 Pada tahun 2003, darmaji memulai pekerjaannya berjualan nasi goreng keliling di pulau jawa. Awalnya darmaji sempat di usir oleh ketua RT  ketika dia berjualan di salah satu tempat di kota Malang, alasannya sepanjang jalan tersebut tidak boleh untuk berjualan, padahal darmaji sudah sering menjajahkan dagangannya di area tersebut.

Darmaji sering di panggil oleh warga sekitar dengan sebutan “LEK TRUBUS” dalam bahasa jawa atau nama lainnya Pak Trubus karena gerobak yang sehari-hari dia bawa bertuliskan Trubus. Ketika itu saya menyempatakn bertanya kepada dia arti kata tersebut, “le’ trubus iku artine cokol mas” (dalam bahasa jawa) yang artinya adalah “ kalau trubus itu artinya tumbuh”.

 Bapak dengan tiga orang anak ini sekarang sehari-hari selain berjualan nasi goreng dia juga bekerja di salah satu instansi sekolah yang ada di malang sebagai tukang kebun. Walaupun pekerjaan yang di lakoninya cukup sulit, dia mempunyai cita-cita yang sangat luhur yaitu menyekolahkan anaknya sampai ke tingkat  perguruan tinggi.

Darmaji mempunyai keinginan untuk mempunyai sebuah tempat agar dia tidak lagi berjualan keliling. Banyak kendala yang di hadapi Darmaji salah satunya adalah minimnya modal yang dia pakai untuk bejualan, sehingga dia tidak bisa untuk mengembangkan usahanya.

Harapan darmaji ada pihak pemerintah atau swasta membantu dalam permodalan, yang sampai sekarang dirasakan darmaji belum ada satupun yang  memberikannya. Daramji juga memiliki keinginan untuk mendirikan sebuah organisasi yang di situ membantu para pedagang kaki lima dalam menyampaikan keluhannya serta mencari solusinya.

Ini menjadikan pelajaran penting bagi instansi pemerintahan bahwasannya kurangnya perhatian dari pihak pemerintah dalam mendengarkan aspirasi orang kecil seperti Darmaji tersebut. (I-ib).              

2 komentar: